Kamis, 10 Januari 2013

KEYBOARD QWERTY

         Nama keyboard QWERTY diambil berdasar urutan huruf pada barisan pertama keyboard yang terdiri dari Q, W, E, R T, dan Y. Susunan huruf seperti ini ternyata sangat memudahkan, dan ternyata ditemukan melalui penelitian yang tidak sederhana.
         Sebelum menggunakan urutan tersebut, Christopher Sholes, sebagai orang yang pertama kali membuat keyboard, menyusun hurufnya berdasarkan urutan alfabet. Barisan pertama keyboard buatannya berurutan A, B, C, D, dan seterusnya hingga Z.
     Mulai tahun 1868, keyboard alfabetik ini kemudian diujicobakan dalam mesin ketik. Christopher sekaligus juga sebagai penemu mesin ketik. Apa hasilnya? Ternyata urutan seperti itu menghasilkan banyak sekali salah ketik. Kesalahan ketik bertambah banyak saat orang yang menggunakannya melakukan pengetikan denga kecepatan tinggi.

       Christopher pun lantas menelusuri asal mula banyak kesalahan itu. Dia mencoba membaca teks di banyak buku satu per satu dan menghitung huruf-huruf yang paling sering berpasangan dalam berbagai kata. Dia dibantu oleh seorang pendidik bernama Amos Densmore. Dari studi ini dia menemukan angka-angka frekuensi huruf yang digunakan secara berpasangan dalam kebanyakan naskah.

       Hasil studi ini, menurut artikel yang termuat di ideafinder.com lantas mengilhami Christopher untuk mengembangkan penemuannya supaya bisa digunakan dengan kesalahan ketik yang sangat minimal. Maka dibuatlah susunan huruf QWERTY untuk memudahkan para pengguna keyboard. Susunan ini memang tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kesalahan ketik, tapi bisa mengurangi secara signifikan kesalahan tersebut.
        Pada tahun 1878, dia mendapatkan paten untuk penemuan keyboard QWERTY yang terus digunakan sampai saat ini. Dia pun memastikan bahwa keyboard temuannya telah diuji secara saintifik dan terbukti menambah kecepatan serta mengurangi kesalahan pengetikan. Di masa-masa berikutnya, keyboard dengan urutan huruf seperti ini digunakan sangat luas.
      Setelah ditemukan QWERTY, pria kelahiran Mooresburg 14 Februari 1819 ini lantas membuat studi tentang kecepatan mengetik kalimat. Berdasarkan studinya, dengan QWERTY, orang bisa mengetik hingga 40 kata bahasa Inggris dalam satu menit. Bahkan mereka sangat mahir, bisa mengetik hingga 90 kata dalam satu menit.
     Christopher meninggal dunia pada 17 Februari 1890 di Milwaukee, Wisconsin. Saat itu memang keyboard QWERTY belum digunakan sepopuler sekarang. Namun, saat dia meninggal, penggunaan mesin ketik denga keyboard tersebut telah meluas dan menghidupkan budaya tulis-menulis.
        Samuel L. Clemens atau kemudian dikenal dengan nama Mark Twain, adalah termasuk pengarang yang sangat terbantu denga temuan itu. Boleh jadi, dia menjadi pengarang ternama di dunia ini yang mengirim naskahnya ke penerbit dalam bentuk naskah ketikan.

(Oase - edisi Desember 2012)

Sabtu, 29 September 2012

-- Bagaimana Mewujudkan Kenyataan --


Jadi, bagaimana mewujudkan kenyataan menurut anda? Sebenarnya anda telah melakukannya. Kita menciptakannya setiap detik, setiap menit, setiap jam dalam setiap harinya. Tapi saya rasa, anda mungkin tidak menyukainya.
Dan anda tahu mengapa? Karena terkadang sebagian dari kita menciptakannya hanya pada hal-hal yang utama. Yang dimaksud adalah kita mewujudkannya tapi tidak pernah menyadarinya, tidak pernah peduli, bagaimana mewujudkannya sehingga kita berpikir kita tidak pernah mampu untuk mewujudkannya.
Bagaimanapun juga, kita semua harus siap untuk mewujudkannya.
Ketidaksadaran itulah yang membuat kita sering mengesampingkannya. Dan menganggap apapun tidak berarti.

Pertanyaan-pertanyaan seringkali muncul di pikiran kita. Jadi darimana pemikiran acuh itu berasal? Tahukah anda bahwa itu berasal dari masa lalu kita. Sejak kita anak-anak, kita telah mengoleksi banyak barang, beberapa diantaranya terlihat kurang bagus. Namun kita jarang untuk menyadarinya.
Dengan kata lain, pertanyaan bagaimana mewujudkan kenyataan akan terjawab disini.
Mendengarkan apa yang seharusnya didengar, melihat apa yang terlihat dan mengalami apa yang memang seharusnya dialami. Inilah yang menjelaskan mengapa kita mendapatkan hal itu –read : kenyataan-.

Selasa, 20 Maret 2012

ANALOGI SECANGKIR KOPI

Apa yang pertama kali anda lihat, cangkirnya atau kopinya ?

Saya termasuk salah satu aktivis di kampus tempat saya menimba ilmu. Suatu pagi ponsel saya berdering. Satu pesan diterima.

Dari seorang akhwat, aktivis dakwah kampus saya juga yang mengirimkan pesan tersebut. Kurang lebih berisi seperti ini :

***

Bismillah,,,
Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Seperti halnya ketika kita disuguhkan secangkir kopi, hal pertama yang terfokus di pikiran kita adalah bentuk cangkirnya. Padahal yang kita nikmati bukan cangkirnya, melainkan kopinya. Dari analogi tersebut, terdapat sebuah pesan bahwa yang terpenting dalam kehidupan ini bukanlah materi, melainkan apa yang ada di dalam pribadi kita. Hiduplah apa adanya, namun tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Sugeng enjing,,,selamat beraktivitas.
semoga berkah hari ini.. amin...

_Allah selalu di hati_

***

Pesan tersebut cukup membuat saya merenung, mungkin anda juga. Seringkali dalam hidup kita hanya memandang segala sesuatu dari segi duniawi -baca : materi- saja. Tanpa memandang apa yang sesungguhnya tersimpan di dalamnya.

Saya juga teringat dengan pernyataan dari dosen Bahasa Inggris saya. Beliau mengatakan demikian :
"Materi memang penting tapi itu bukan yang utama."

Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam hidup kita memang membutuhkan materi untuk memenuhi kebutuhan kita. Tapi jangan sampai hal itu membuat kita mengesampingkan apa yang ada dalam diri kita masing-masing.

Kembali ke analogi secangkir kopi. Rasa tersebut memang ada rasa pahit. Begitu juga hidup. Kepahitan adalah ujian untuk memperkuat iman kita. Namun dibalik kepahitan kopi, ada rasa manis di dalamnya. Yakinlah dalam hidup tak selamanya kita dirundung kesedihan, kemalangan, kepahitan. Akan ada masanya kita memetik buah kesabaran dari kepahitan tersebut.

Selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan sangatlah penting. Karena dengan rasa syukur kepada Sang Pemilik Jiwa, akan membuat kita selalu ingat kepada-Nya. Sehingga kita bisa menyeimbangkan hidup ini.

Semoga bermanfaat... ^_^